Dialog Jujur Pejabat Semarang dan Bocah-bocah TK

Sumber : http://regional.liputan6.com/read/2516643/dialog-jujur-pejabat-semarang-dan-bocah-bocah-tk

Kesan tegas sontak luruh dari wajah Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu. Kesan itu tertangkap saat ia berhadapan dengan bocah-bocah TK.

Di sela kesibukannya, Hevearita atau biasa disapa Mbak Ita menyempatkan diri mengunjungi sebuah kelompok bermain dan TK Kasih Ibu di sekitar Pasar Kembang Randusari pada Rabu 25 Mei 2016.

Ita tertarik mendatangi sekolah itu setelah mendapat informasi bahwa sekolah yang berada di tengah Kota Semarang diselenggarakan cuma-cuma. Dengan murid anak-anak kaum marginal, mulai penggali kubur, penyapu makam, penyapu jalan, para gurunya ternyata tidak mendapat honor dan juga dari kalangan mereka sendiri.

“Saya pengin tahu bagaimana caranya mengelola sekolah yang tak dibiayai pemerintah namun bisa terselenggara gratis,” kata Mbak Ita.

Saat berkunjung itulah ia menyempatkan berdialog dengan anak-anak TK. “Nanti kalau Bunda Ita ke sini lagi, minta oleh-oleh apa?” tanya dia.

Tak ada jawaban apapun dari murid-murid ini. Beberapa di antaranya bahkan saling berbisik yang makin lama makin mengeras, melantunkan lagu berbahasa Jawa ‘kodhok ngorek’.

“Nah, karena pinter nyanyinya, minta hadiah apa?” tanya dia lagi.

Kali ini anak-anak riuh. Mereka menginginkan hal yang berbeda-beda. Mbak Ita berinisiatif memberi pilihan.

“Mau pensil atau alat tulis? Apa pilih jajanan atau kue?” tanya Mbak Ita.

Kali ini dia mendapatkan jawaban, “Kue !!!!” jawab bocah-bocah itu serempak.

Jawaban jujur ini ternyata berkesan di benak Mbak Ita. Usai kunjungannya, dia mengapresiasi kepolosan anak-anak itu.

“Saya pernah berkunjung ke sebuah play grup, ternyata anak-anaknya sudah di-settingmemiliki jawaban yang mirip. Intinya ending-nya mereka minta fasilitas ini, itu, yang rasanya nggak mungkin dari hasil pemikiran anak-anak,” ujar sang wakil wali kota.

Sebagai apresiasi, Mbak Ita berjanji akan hadir lagi dalam penerimaan rapor awal Juni nanti.

Dia mengaku terkesan dengan semangat para penyapu kuburan dan juga para penggali kubur mendirikan sekolah itu. Mbak Ita lalu berjanji akan menjajaki kemungkinan penggunaan anggaran Dinas Pendidikan Kota Semarang, agar fasilitas sekolah di sebuah rumah warga itu bisa lebih lengkap.

“Coba saya pelajari nanti, ada anggaran yang bisa dialokasikan untuk men-support enggak,” ucap Mbak Ita.

Ketahuan Curang Saat Ujian, Siswa di China Terancam Bui 7 Tahun

Sumber : http://global.liputan6.com/read/2527835/ketahuan-curang-saat-ujian-siswa-di-china-terancam-bui-7-tahun

Lebih dari 9,4 juta siswa di China menjalani ujian masuk perguruan tinggi yang diadakan setiap tahun dan dikenal dengan nama gaokao.

Dikutip dari The Washington Post, Jumat (10/6/2016), tes tersebut dianggap sangat menentukan nasib mereka ke depannya, karena perguruan tinggi hanya melihat berdasarkan nilai ujian.

Mereka meyakini bahwa hanya siswa bernilai tinggi saja yang dapat menerima pendidikan dan pekerjaan lebih baik. Sementara mereka yang bernilai rendah dinilai akan memiliki masa depan suram, dan diperparah dengan rasa malu.

Karena taruhannya begitu tinggi, kemungkinan terjadinya perilaku curang selama ujian menjadi keprihatinan besar. Tahun ini, pemerintah China tak memberi ampun bagi mereka yang berperilaku curang.

Kantor berita China, Xinhua melaporkan bahwa kecurangan dianggap sebagai tindak kriminal dan pelakunya akan menerima hukuman penjara selama 7 tahun.

Undang-undang baru itu disebut-sebut mulai berlaku pada November 2015 lalu. Hukuman paling berat akan diperuntukan bagi mereka yang ketahuan terlibat melakukan kecurangan massal atau menyewa orang lain untuk menggantikannya selama ujian.

Beredar laporan dari seluruh China, yang menunjukkan indikasi bahwa polisi kini memainkan peran aktif dalam mencegah kecurangan saat ujian. Banyak dari mereka yang ditempatkan di ruang ujian dan mengawasi perilaku mencurigakan.

Di Beijing, rata-rata 8 orang polisi ditempatkan di setiap ruang ujian. Di beberapa kota, sepatu yang dipakai siswa bahkan diperiksa terlebih dahulu, sebelum mereka memasuki lokasi ujian.

Salah seorang orangtua menanggapi kebijakan tersebut dengan melihat dari sisi positif dan negatifnya.

“Untuk benar-benar menghapus kecurangan, tak hanya memperkuat hukuman, tapi sistem penerimaan juga harus direformasi,” ujarnya.

Gaokao yang diadakan sejak Revolusi Kebudayaan, telah menjadi ujian yang dinilai paling menentukan nasib seorang siswa ke depannya.

Para siswa pun benar-benar mempersiapkan ujian yang dilaksanakan pada bulan Juni tersebut. Bahkan beberapa anak yang terlahir dari keluarga kaya rela menghabiskan ribuan dolar untuk mengikuti les tambahan.

Menko Puan: Hanya 10 Persen Pemuda Lanjut ke Perguruan Tinggi

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menyatakan, kemiskinan menjadi kendala bagi pendidikan Indonesia. Pemberian beasiswa pun diharapkan dapat membantu perkembangan dunia pendidikan.

“Alasan ekonomi, kemiskinan, budaya hingga sarana prasarana yang belum merata. Padahal pendidikan menjadi elemen penting bagi bangsa yang maju dan berkompetisi bagi negara lain. Sementara dari generasi muda hanya 10 persen melanjutkan di tingkat perguruan tinggi,” ujar Puan saat penandatanganan MoU Laziz PLN dengan PTN/PTS, pemberian beasiswa dan pemberian bantuan kepada 3 pondok pesantren di Pendopo Kepatihan Yogyakarta, Senin 20 Juni 2016.

Puan mengatakan, beasiswa diberikan tidak hanya untuk mahasiswa yang pintar, tetapi juga agar mereka dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Sehingga, proses pendidikan dapat terus berlanjut. Beasiswa pendidikan ini diharapkan mampu meningkatkan kemajuan generasi muda emas Indonesia pada tahun 2045.

“Bukan IP dan IPK yang tinggi tapi kesempatan bagi mahasiswanya menyelesaikan pendidikannya. bagaimana anak-anak tepat waktu menyelesaikan pendidikan,” kata dia.

Puan menjelaskan, pemberian beasiswa oleh Laziz PLN kepada 200 mahasiswa dan 3 pondok di DIY diharapkan jumlahnya semakin meningkat tiap tahunnya. Hal ini demi kemajuan generasi muda melalui pendidikan. Sehingga generasi emas yaitu generasi muda yang unggul berkarakter dan mengusai teknologi dapat tercapai.

“Jumlah Rp 120 miliar bukan kecil dan juga besar jika dibagi di seluruh Indonesia ini tentu tidak cukup. Tapi kami ingin agar anak-anak tepat selesaikan sekolahnya. Pemerintah juga ada beasiswa kepada mahasiswa miskin berprestasi sebanyak 60 ribu melalui beasiswa kebebasan pendidikan dan bantuan hidup Rp 500 ribu,” ucap Puan.

Sementara itu, Direktur Human Capital Management (HCM) PLN Muhammad Ali mengatakan, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (Laziz) PLN menyalurkan beasiswa bantuan beasiswa cahaya pintar sebesar Rp 40 miliar untuk 2.000 mahasiswa dari berbagai program studi di 40 Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di Indonesia.

Di Yogyakarta, ada 200 mahasiswa dari empat PTN dan PTS yang diberi bantuan hingga Rp 4 miliar. Selain itu PLN juga memberikan untuk program pesantren bersih untuk tiga pesantren senilai Rp 150 juta dan bantuan program pemberdayaan masyarakat Gunungkidul dan Sleman senilai 175 juta.

“200 mahasiswa ini di UGM, UII, UIN Sunan Kalijaga dan UMY. Tujuannya untuk meningkatkan harapan bagi mahasiswa kurang mampu agar mengenyam pendidikanlebih tinggi,” tutur Ali.